He ran so fast toward me.. and suddenly stopped while taking a breath, wiping his sweat, with his big fat belly run over his stomach.. I looked back and realized that he was chasing the bus 838...
C'mon! Run fasteR! Don't stop! I shouted loudly inside..
Yeah, he started his step again, running toward the stopped bus838 and I stepped forward wishing his luck.. Seconds later, the bus 838 passed me from behind.. I saw the big fat man pulling his coin to pay the bus fare.. good, I'm glad he made it
wan hang du lu, Shanghai on my way back home those afternoon
Hmmm... saya secara tidak sengaja membaca sebuah note di Facebook, dikatakan merupakan note Bp.Dahlan Iskan, dirut PLN.. pemaparannya tentang hujatan-hujatan masyarakat kepada PLN.. Note yang berjudul risiko dihujat ini mungkin merupakan uneg-uneg dan semangat untuk merubah wajah PLN yang sudah coreng-moreng.. Saya sendiri sering membaca status teman-teman di Facebook tentang 'Listrik naik tapi byar-pet jalan terus'nya PLN..
oke, saya copy paste saja note Pak Dirut..
Risiko Dihujat
LISTRIK di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta padam. Heboh. Ribuan penumpang ngomel, marah dan menghujat. Terutama menghujat PLN. Dan juga tentu menghujat saya. Apalagi mati listrik itu terjadi pada waktu puncak-puncaknya: menjelang jam penerbangan pertama, di hari Jumat yang lebih ramai daripada hari apa pun, dan menjelang bulan puasa di mana banyak orang akan melakukan perjalanan suci berbakti kepada orang tua, termasuk ke kuburan mereka.
Nama PLN yang selama ini sudah buruk itu hancur lebur di Bandara Soekarno-Hatta pagi itu. Bahkan, hancur di mata seluruh bangsa Indonesia. Sebuah headline surat kabar yang memang biasa mengkritik PLN menulis: Byar-pet telah memalukan bangsa!
Sungguh masuk akal bila hari itu tidak ada satu pun orang yang berpikir bahwa mati lampu di bandara tersebut bukan kesalahan PLN. Masuk akal juga kalau tidak ada yang berpikir bahwa bisa saja instalasi listrik di dalam bandara itulah yang mengalami gangguan. Bahkan aneh sekali. Mengapa UPS yang mestinya otomatis mengambil alih daya listrik secara darurat itu tidak jalan.
Begitulah hukum alam. Seorang koruptor yang istrinya dua dan rumahnya mewah akan kelihatan lebih jahat daripada seorang koruptor yang lebih besar tapi istrinya satu dan rumahnya biasa saja karena berhasil menyimpan uangnya di luar negeri yang tidak ketahuan siapa pun.
Ada cerita lainnya: Kontraktor Jepang, Mitsubishi, mengerjakan pemborongan pembaruan pembangkit listrik di Muara Karang, Jakarta. Alat beratnya menghantam instalasi listrik dan membuat sebagian kawasan Jakarta padam. Hari itu nama PLN juga babak belur. Masyarakat Jakarta sudah trauma. Bisa-bisa akan berbulan-bulan lagi terjadi pemadaman bergilir. Meski hari itu listrik bisa dipulihkan dalam waktu lima jam, tapi nama sudah terlanjur hancur.
Orang tahunya PLN itu memang sudah parah. Tidak mungkin Mitsubishi bisa salah. Pasti PLN yang salah. Apalagi pihak Mitsubishi yang semula sudah setuju untuk meminta maaf secara terbuka ke publik, akhirnya menolak. Alasannya kantor pusatnya di Tokyo tidak setuju. Saya memaklumi alasan itu, karena begitu perusahaan itu minta maaf akan sangat rawan gugatan. Siapa pun yang menggugat, Mistubishi akan langsung kalah. Sudah minta maaf, berarti sudah mengakui berbuat salah. Di mata Mitsubishi barangkali muncul logika ini: sekalian saja biar PLN yang salah.
Di kota Pematang Siantar (Sumatera Utara), masyarakat yang baru saja menikmati hilangnya pemadaman bergilir bertahun-tahun, menghujat PLN lagi. Kali ini listrik di kota itu memang padam cukup luas. PLN hanya bisa menerima hujatan itu, meski mati lampu tersebut sama sekali tidak disangka-sangka. Hari itu seseorang yang lagi marah mengamuk membabi-buta. Ini karena jaringan di rumahnya diputus akibat ketahuan mencuri listrik. Diam-diam dia pergi ke suatu tempat yang vital. Mengamuk dan memutuskan jaringan penting listrik di sana. Polisi memang berhasil menangkap orang tersebut, tapi kekecewaan masyarakat yang listriknya mati tidak terobati.
Di Cianjur Selatan (Jawa Barat) masyarakat juga marah. Hari itu hujan angin luar biasa hebatnya. Disertai petir dan halilintar. Jaringan di Cianjur Selatan putus. Pemulihannya memerlukan waktu lebih dari lima jam. Kali ini PLN benar-benar salah.
Setelah diperiksa, ternyata jaringan ini terlalu panjang tanpa dipasangi LBS di tengah-tengahnya. Jaringan ini panjangnya 15 kilometer tanpa LBS sama sekali. Seharusnya, setidaknya di tiap 3 kilometer dipasangi LBS. Dengan demikian kalau pun listrik mati karena bencana alam, akan lebih cepat memperbaikinya. Tidak harus lebih lima jam seperti itu. Bahwa petugas harus memulihkan jaringan itu sambil mengarungi hujan badai, itu sudah biasa. Tapi, bahwa tidak ada LBS di tengah-tengah jaringan panjang itu, memang kesalahan sistem di PLN.
Setelah kejadian itu, seluruh Indonesia diminta memeriksa di mana saja ada jaringan yang terlalu panjang yang tidak dipasangi LBS. Rasanya tidak perlu dijelaskan apa itu LBS, karena begitu banyak peralatan listrik yang memang sulit dijelaskan. Dan tidak perlu. Yang penting listrik jangan mati.
Ternyata memang banyak listrik mati akibat kesalahan sistem PLN seperti itu.
Yang terakhir ini kesalahan saya juga: Waktu saya ke Istana Bogor Jumat lalu, saya menyempatkan diri menemui dan berdialog dengan karyawan PLN di Bogor. Hari sudah malam. Di luar lagi hujan deras. Saat itulah radio panggil petugas PLN bersuara: Lima tiang listrik di lereng Gunung Salak roboh. Saya bertanya, jam berapa ini. Sekitar jam 22.00.
Saya terus mendengarkan dialog di pesawat komunikasi itu. Suaranya agak kurang jelas. Rupanya petugas di sisi sana lagi di tengah-tengah hujan. Dia sudah berusaha untuk bersuara sekeras mungkin tapi masih kalah dengan suara angin ribut. "Jurangnya dalam sekali," bunyi suara di radio komunikasi itu.
Dari seberang sana terdengar pertanyaan apa yang harus diperbuat. Jiwa saya terbelah. Di satu pihak saya membayangkan alangkah menderitanya masyarakat yang listriknya padam di lereng gunung Salak itu. Di lain pihak saya bergulat dengan perasaan: Akankah saya memaksa petugas itu untuk memulihkan tiang listrik di bibir jurang yang dalam di tengah kegelapan malam yang berhujan itu? Akankah saya harus mengorbankan jiwa mereka?
Saya tercenung agak lama. Kadang sebuah keputusan begitu sulitnya.
Bahwa PLN dan saya dihujat, baik akibat kesalahan sendiri maupun bukan, tidak bisa dihindari. Tidak ada resep yang lebih baik kecuali terus bekerja keras.
Saya hanya ingat ketika awal-awal membenahi Jawa Pos pada 1982. Waktu itu begitu lemahnya Jawa Pos sehingga orang Surabaya sendiri tidak tahu di mana alamat Jawa Pos di Jalan Kembang Jepun itu.
"Di mana sih Jawa Pos itu?"
"Di depan Bank Karman," jawab saya.
Bank Karman. Begitu kecilnya bank itu, tapi masih lebih terkenal daripada Jawa Pos. Maka timbul dendam dalam jiwa saya: saya harus membuat Jawa Pos setidaknya akan menjadi lebih terkenal dari Bank Karman! Kalau suatu saat ada yang bertanya di mana itu Bank Karman, akan saya jawab dengan gagah berani: di depan Jawa Pos!
Dendam yang sama kini muncul di jiwa saya. Saya harus membuat PLN lebih terkenal daripada bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian kalau suatu saat ada mati lampu lagi di Bandara Soekarno-Hatta, orang tidak lagi menghujat PLN. Saya serahkan kepada-Nya mengenai hasilnya. (*)
Menarik...saya kagum dengan kegamblangannya dan kemauannya untuk 'balas dendam' membuat PLN lebih terkenal daripada Soekarno-Hatta.. Ini juga sekaligus pe-er yang rasanya tidak bisa dikerjakan sendirian, tapi harus dengan bantuan masyarakat semua..
Saya mendukung anda, Pak Dirut! Tidak ada resep yang lebih baik kecuali terus bekerja keras..dan hasilnya serahkan saja kepada-Nya!
Greeting from Shanghai. OK..I've been living here in Shanghai for like 9months and during those 9months, I have moved house 3times! haha..quite interesting and it means I move house every 3months in average. Hmm, let see.. my first house was in Yan Ping Road-Wu Ding Road.. then I moved to Huashan Road-Yan An Road to live together with Jojo.. After about 1 or 2 months, I moved again to Tong Chuan Road- Lan Gao Road, where I lived only in a small room, yet big enough for me.... Just yesterday, I moved house to Yan Ping Road-Xinzha Road... Quite nomade life I had here in Shanghai eh?
Hmm..anyway, this week it's quite busy week for Bali Bistro..The new menus are going like blasting since we will have another promotion for Indonesian Independence Day this 17th of August..
The bad news is... Naga Bonar goes back to HP service centre..Hm, maybe it's time for me to have another notebook...
ah, I've got not so interesting stuff to tell at the moment I guess... but I read a sentence in my Learning Chinese Book says 'When you are in Roma, do it like Romans'
selamat malam... kali ini saya posting dengan kesusahan.. jadi ceritanya tadi saya ini nganter makanan, nasi tumpeng beserta kroni-kroninya gitu.. sebenernya gak gitu berat, tapi entah kenapa punggung saya jadi sakit setelah angkat2 gituan.. mungkin karena sudah lama juga saya tidak olahraga...
oya, hari ini tadi saya untuk yang pertama kalinya seumur hidup meminum kopi legendaris Indonesia yang sekaligus jadi kopi termahal seantero jagad raya.. KOPI LUWAK! Hmm.. ceritanya begini, hari ini rombongan bapak menteri dari Indonesia 'numpang' makan di Bali Bistro.. setelah santap malam selesai, mereka minta kopi luwak.. langsung saja saya buatkan.. eeh, ternyata banyak yang minta kopi luwak juga.. karena proses bikinnya yang agak ribet, tentu saja butuh waktu agak lama.. [biji kopi mesti di giling dulu, baru dibuat secara manual] Sekedar info, satu kali proses mendidih, kita hanya bisa menghidangkan 2cangkir kopi.. 2cangkir kopi pertama dan kedua sukses dihidangkan dengan selamat.. Namun malang, ketika saya berhasil menghidangkan 2cangkir kopi ketiga, rombongan terlanjur buru-buru pergi karena ada urusan yang lain.
ya sudah, akhirnya menganggur juga 2 cangkir kopi luwak yang 1nya berharga 280RMB [kurang lebih IDR 350k]. Tapi karena sudah dibuat daripada dibuang, ya sudah saya tenggak saja.. HA! Rasanya memang berbeda dengan kopi kopi lain yang pernah saya minum.. sebut saja kopi jawa, kalosi toraja, atau mandeling sumatera.. terang saja beda! Lha wong bikinnya aja njlimet bin ribet.. mungkin kalau pak menteri mau nggiling bijinya sendiri, harganya bisa lebih murah..haha.. yang pasti, kopi luwak ini memiliki cita rasa tersendiri.. susah dijelaskan dengan kata-kata.. dan juga sekaligus salah satu kopi terenak yang pernah saya minum selain segafredo dan kopi buatan pak woeryanto hidayat... Bagi anda para pecinta kopi, yang pernah merasakan kenikmatan kopi luwak, nah..anda tahu sendiri sensasinya...^^
yang pasti, kopi luwak tidak berhasil mengurangi rasa sakit di punggung saya dan membuat saya tambah merana karena mata saya melek sampai sekarang... fiuh...
nb:pak woeryanto hidayat ini tidak lain tidak bukan adalah bapaknya okky kharisma hidayat yang terkenal itu.. [red:bapaknya yang terkenal, bukan anaknya]
Hmmm..saya serasa kehilangan ilham dan ide untuk menulis... tentu saja bukan sembarang menulis... menulis yang semoga bisa memberikan inspirasi dan semangat.. seperti kata teman saya...terimakasih yang berarti 'terima berkat' dan langsung 'kasih berkat' ke orang lain..jadi saya ingin agar saya bisa memberikan inspirasi dan berkat bagi para pembaca... wah..mungkin karena Shanghai belakangan ini suhunya terlalu panas sehingga saya butuh penyegaran..refreshing....
YeP! Sekarang ini saya bekerja di Bali Bistro.. sebuah restauran Indonesia di Shanghai yang terletak di Jing'An distrik. Sudah kurang lebih 1bulan saya bekerja di sini yang puji Tuhan atmosfer kerjanya jauh lebih baik daripada tempat kerja saya yang lama. Ya, restauran yang relatif masih seumur jagung ini memang sedang bertumbuh dan berkembang menuju kemapanan, sebanding lurus dengan saya yang juga masih seumur jagung di dunia kerja ini. Saya juga berharap untuk bertumbuh dan berkembang bersama menuju kemapanan, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Nah, dalam rangka menyambut datangnya bulan Agustus ini, kami -saya dan manager saya- mengagendakan 2 event besar, pertama tentu saja peringatan hari ulang tahun RI, dan yang kedua adalah dimulainya ibadah puasa untuk umat muslim baik di Indonesia,Shanghai, dan belahan dunia yang lainnya.
Promosi yang kami agendakan ini hanya secuil ide yang terlintas dalam benak dikarenakan waktu yang mepet. Slogan-slogan dari kaos Indonesia yang dijual di Bali Bistro, yaitu 100% Indonesia menjadi salah satu bahan pertimbangan. Tentu saja di negeri yang warga negaranya sungguh sangat jamak ini, jamak pula kuliner yang terdapat di dalamnya. Singkat cerita, dengan rujukan 100%Indonesia ini, kami merundingkan promosi untuk menu baru. (Tentu saja rujukan hidangan pembuka puasa termasuk didalamnya^^)
So, sekedar bocoran saja, Bali Bistro -dengan segera- dengan bangga meluncurkan menu promosi 100% Indonesia-nya, yang terdiri dari menu makanan dan menu dessert...
Kambing bumbu tinoransak ini rasanya hampir mirip dengan garorica, hanya menggunakan daging kambing, karena Bali Bistro ini restaurant halal..
Dendeng Balado ini kabarnya dulu pernah dijadikan menu andalan, tetapi entah mengapa sekarang dicabut dari daftar menu, tapi rasanya bakal menjadi menu andalan lagi..^^
Opor Ayam ini mungkin dalam bahasa Inggris bisa disebut 'White Curry Chicken'
Yang ini jajanan ndeso ala kota, yang sekarang goes international.. [Petis Kangkung Goes To Shanghai?]
dan ini untuk menu dessert, yang sekalian dapat dinikmati sebagai hidangan pembuka puasa...
Kopyornya pakai kopyor sintesis, 5thumbs up for Mr.Jo, my manager!
Pisang Bakar ala BB, mungkin bakal jadi salah satu dessert favorit saya =P
Ada yang tahu asal muasal Bubur Sumsum?
Oya, semua foto yang ada dalam gambar ini adalah foto yang diambil kemaren pada saat pemotretan..(copyright of Bali Bistro?) hanya sedikit pengeditan menggunakan photobucket..
well, I do really hope this new menu will turn out on blasting...for 100%Indonesia..for Bali Bistro, and for the proud of being Indonesian...
Ngomong-ngomong lagi, visa kerja dan resident permit saya sudah diapprove oleh pihak imigrasi Shanghai..puji Tuhan.. meskipun cuma sampai bulan Maret, karena memang bulan Maret tahun depan ini paspor saya habis masa berlakunya.. Dengan adanya stamp dari pihak imigrasi, status saya sah dan manajer saya menjabat tangan saya dan berkata 'Selamat datang di keluarga Bali Bistro!'
Some said..Just follow your heart.. but when your heart is broken into pieces, which piece would you follow?
There is quite a confusion between mind and heart.. To do and not to do is just a simple way.. But to feel and not to feel..is the other way..
Fairness is an absurd accumulative for what people have done.. 'What goes around comes around' as they spoke..
And when the night has come..there is only darkness you'll find.. The only way is just to follow your heart.. But when your heart is broken into pieces, which piece would you follow?
Greeting from Shanghai! -yang cuacanya makin hari makin aneh saja-
Well, what do I want to say? Rada bingung juga..Belakangan suka blank ga ada topik untuk blogging..yang sebenernya topik itu banyak tapi agak susah memilihnya.. hmm..oke, begini saja, saya cerita secuil kisah saya disini hari ini.
Intro, saya ini suka main musik -meskipun tidak jago-jago amat-. Jadi hari ini saya melayani di gereja sebuah komunitas Indonesia di Shanghai, dimana keadaan urgent yang membuat kami berakustik ria hari ini,dengan 1gitar bolong dan 1bas. Saya senang bisa mulai pelayanan lagi. Tapi sama ketika saya melayani di Amsterdam dulu, sebuah pertanyaan terlintas. Apakah saya memang benar-benar ingin melayani Tuhan, atau saya hanya menyalurkan bakat bermain musik saya??
Saya jadi berpikir dan meninjau kembali tentang visi misi yang telah Tuhan taruh di hati saya. Apa jangan-jangan justru saya tidak memiliki visi dan misi? wah, bisa gawat kalau begitu. Setelah meninjau ulang, sebenernya tidak ada yang salah dengan apa yang Tuhan telah kerjakan. Ya, yang salah ada di saya.
"Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu." Yoh 15:16a
Ya, sayalah yang menjauh... Perbincangan malam ini dengan seorang teman baik saya pun sudah lebih dari cukup untuk berbalik dan meninjau kembali hidup saya. Sekarang saya merasa dia jauh didepan sana...oK, perjalan iman ini memang tidak ada habisnya..dan Dia menjanjikan penghibur..
Lucunya, justru karena sayalah rekan saya ini terpacu untuk bertumbuh lebih dalam bersama Tuhan.. dan sekarang saya percaya dia dipakai untuk mengingatkan saya akan kekuatan bertumbuh dan hidup bersama Tuhan..
terima kasih, nona kecil! Keberadaanmu membuat saya merefleksi kembali kehidupan iman saya bersama Tuhan...
-ditulis saat hujan lebat disertai angin kencang di Shanghai, yang cuacanya makin hari makin aneh saja-
yi-mao (1mao, 10sen) juga duit! Pecahan kecil koin mata uang China untuk 10 sen ini diberi nama mao, 10 mao sama dengan 1 yen atau di Shanghai ini orang menyebut dengan pecahan 'kuai' (1kuai=1RMB/1yen)
Yap, kalo ngomong-ngomong soal uang kecil, kadang kita sering berpikir bahwa uang kecil itu ga ada artinya. Dulu waktu saya masih kecil -sekarang juga masih kecil ah-, uang Rp 50,- itu bisa dipakai buat beli permen karet cap yosan yang harganya 1 masih Rp 25,-. Sekarang? Mau cari pecahan Rp 50,- aja mungkin susah. Kalau orang kehilangan Rp 50,- saja, mungkin tidak akan serepot kalau kehilangan Rp 50.000 ya.. Dulu mami saya juga sering bilang, uang senilai Rp 10.000 saja kalau kurang Rp 50 ya tetap saja bukan Rp 10.000.. Yap, sekecil-kecilnya uang, tetap saja ada nilainya.
Pengalaman saya hari ini pun juga berhubungan dengan uang kecil. Pagi tadi saya mengambil uang recehan saya dari celana. Saya hitung koinnya ada 9keping 1 kuai (1RMB) dan 1keping 1mao (1sen). Saya tidak begitu suka mengoleksi uang koin, maka rencana saya adalah memakai koin itu untuk membeli sandwich dan susu di Family Mart. Saya mengambil 9keping 1 kuai dan meninggalkan 1mao dikamar saya. 1mao? Bisa buat beli apa? Begitu pikir saya. Lalu sesampainya saya di Family Mart, saya bergegas membeli sandwich dan susu coklat, menuju kasir untuk membayarnya. Yang cukup mengejutkan adalah total belanjaan saya ini seharga 8.1RMB [ba kuai yi mao]! Jah, menyesal saya meninggalkan koin kecil 1mao saya dikamar. Maunya membuang koin, alhasil saya membayar 9kuai dan mendapat kembalian 9mao, 1keping 5mao dan 4keping 1mao.
Pelajaran berharga dari uang kecil senilai 1mao.
ah..yi-mao (1mao,10sen) juga duit!
red:1kuai/1rmb berkisar antara Rp 1200-1300,- jadi 1mao sekitar Rp 120,-
Ah...Entah mengapa saya suka lagunya Naruto (lagi). Well, gara2nya ini karena tetangga sebelah secara mendadak memutar lagunya Naruto yang judulnya apa saja saya tidak tahu. Pokoknya dulu di cd lagu Naruto saya, saya punya lagu itu.
Nah, begitu saya cek lagi di Naga Bonar saya ini ternyata koleksi hit single opening ending Naruto ini cuma sedikit saja. Cuma ada Kanashimi wo Yasashisha Ni, Yura-Yura, Home Sweet Home, Distance, Harmonia, en Naruto Ondo. Bahkan first single Wind-nya Akeboshipun saya tidak punya. Ya sudah, gara-gara penasaran maka saya search saja di salah satu search engine tersohor sejagad raya milik Google [yang katanya sebentar lagi sudah meninggalkan Negri Tirai Bambu]. Akhirnya saya mendownload beberapa lagu yang easy catching dan tentu saja enak didengar.
Nah salah satu lagu yang saya download ini judulnya 'Nakushita Kotoba' [The Lost Word], ciptaan No Regret Life..Lagu lama dari jaman Naruto belom go shippuden. Ini ending 9, sewaktu Sasuke memutuskan untuk pergi dari Konoha Village. Ini sekalian saya embed videonya juga..
Kalau mau cari liriknya, linknya ada di sini. Itu sekalian ada versi Inggrisnya juga. Bagian yang paling saya suka dari lagu ini ada di sec. 3:50-4:24..
Kono omoi wa mune ni shimatte okou [demo, boku no kibo] Nakushite Shimatta [tte inai]
I'll keep this love in my heart [but, i hope] I've lost you [not]
Ah...Entah mengapa saya suka lagunya Naruto (lagi)
Yap! Sebuah tanda tanya tidak begitu besar sempat terlintas di benak saya. Gara-garanya hanyalah seorang tamu yang merasa tidak puas dengan makanan di tempat restoran saya bekerja.
T: "Ah..everything is fine but it is not what I expected from Balinese food...Your rendang is too dry, and your chicken curry is too sour"
Begitu katanya.. Asumsi saya mengatakan bahwa impresi yang tertanam di kepala si bule adalah bahwa rendang itu agak basah dan kari ayam itu mestinya tidak masam. Sebentar, bukannya rendang itu masakan asli Padang? Bukannya Indonesia memiliki belasan bahkan mungkin puluhan tipe kari? Kalau saya bilang, Nasi Opor Ayam, bukankah kalau saya translate ke bahasa Inggris bisa dikatakan 'Chicken Curry Rice'?
Si bule tidak salah, karena memang apa yang dia makan pada saat dia berada di Bali pun adalah rendang daging yang agak basah dan kari ayam yang tidak terlalu masam dan dia menganggap itu adalah masakan Bali. Masalahnya di Bali sendiri, berbagai macam restaurant Indonesia berlabel Balinese food yang didalamnya pun bukan 100% Balinese food tetapi adalah masakan Indonesia nusantara.
Anggap saja saya ini bule juga, saya pergi berlibur ke Bali dan makan di restoran A sepiring rendang padang agak basah. Si bule anu makan di Restoran B rendang yang kering. Ketika saya berkunjung ke Shanghai dan makan di sebuah restoran Indonesia dan mereka menyajikan rendah padang yang kering, KLOP! Paradigma saya berkata bahwa ini bukan rendang Indonesia, rendang Indonesia mestinya agak basah. Di satu sisi, bule anu berkunjung pula ke restoran yang sama dan berkata bahwa, ow, restoran ini benar-benar menyajikan makanan Indonesia. Mana yang benar?
Ya, Indonesia ini satu, nusantara, tapi bermacam-macam. Seperti slogan yang dibawa oleh Indonesian Pavilion pada perhelatan Shanghai Expo ini, Unity in Biodiversity. Bhineka Tunggal Ika, bermacam-macam tapi tetap satu juga. Satu pulau saja, katakan Pulau Jawa, soto ayamnya bisa cem-macem kok. Ada Soto Madura, Soto Lamongan, Soto Kudus, dan embel-embelnya, apalagi satu negara, bisa berantem kalo Sotonya diharuskan cuma ada 1jenis.
Begitu juga dengan saya, kalau misalkan saya dulu berkunjung ke swiss dan menikmati Cheese Fondue ala Montreux, lalu saya makan di Restoran Swiss di Shanghai dan mendapatkan sebuah Cheese Fondue yang berbeda, bisa komplainkah saya? Kalau saya makan sebuah masakan ala Yunani yang baru pertama kali saya makan, bukankah seharusnya saya menghargai masakan mereka? Ya ini masakan ala mereka, ala Yunani, wong ya bukan makanan sehari-hari saya. Kalau saya tidak suka, apa bisa saya bilang 'Masakan Yunani itu tidak enak'? Bukannya mestinya saya bilang 'Saya tidak cocok dengan masakan Yunani'?
hmm..sebuah tanda tanya tidak begitu besar terlintas di benak saya..
sudahlah, saya tidur saja, daripada jadi skeptis karena masalah rendang dan kari ayam.. Hahaha....selamat malam semua!!^^ Tuhan memberkati!